Selamat Datang di Blogspot Sioban Barita GKPA HORAS.........

Minggu, 14 Juli 2013

PENAHBISAN DIAKONES GKPA

Minggu 07 Juli 2013 di GKPA Jl. Teuku Umar 102 Padangsidimpuan telah terlaksana dengan baik Penahbisan salah seorang pelayan GKPA yakni Diakones Merni Pakpahan. Penahbisan Diakones ini resmi ditahbiskan oleh Ephorus GKPA.. Acara Penahbisan ini sejalan dengan kebaktian Minggu siang, Diakones Merni selama ini dipercayakan melayani di GKPA Resort Dumai, dan disana menjalani masa vicar. Pada acara penahbisan ini juga turut hadir Pendeta Resort Dumai, 
Semoga GKPA semakin bertumbuh dan dewasa melalui para pelayanan yang bertambah. Horas.....

PERJALANAN KE JERMAN DALAM RANGKA PERAYAAN 30 TAHUN PARTNERSHIP ANTARA GKPA DENGAN DISTRIK BRAUNFELS DAN KEGIATAN PGI DI JAKARTA




 
Perayaan 30 tahun Partnership :

Perjalanan ke Jerman :
Ephorus dan Sekjend berangkat dari Padangsidimpuan tanggal 27 April, dan besoknya berangkat ke Jerman dari Medan melalui Kuala Lumpur. Tanggal 28 April pagi kami tiba di Frankfurt (Jerman) sekitar pkl. 08.30 waktu setempat. Kota kecil KATZENFURT merupakan tempat kami tinggal dan di sanalah Pdt. Ulrich Ries melayani.

Kegiatan-kegiatan :

Tanggal 29 April mengunjungi keluarga Horst Wagner (salah seorang anggota Tim Partnership).Tanggal 30 April berkunjung ke kantor Distrik Braunfels bersama dengan para Tim partnership, dan di sana bertemu dengan Superintendent Roland Rust. Di kantor tersebut kami juga bertemu dengan delegasi dari Namibia (6 orang) bersama Superintendent Distrik Wetzlar, Ute Kannemann. Pertemuan bersama tersebut merupakan pertemuan partnership secara umum. Masing-masing delegasi, khususnya kita dari GKPA memaparkan kehidupan gereja, tantangan dan harapannya, khususnya dalam kaitan partnership.Selesai pertemuan, GKPA memberikan kenang-kenangan kepada Superintendent Roland Rust dan beliau sangat senang dengan pemberian tsb dan mengucapkan terima kasih.


Tanggal 1 s/d 5 Mei : mengikuti perayaan KIRCHENTAG di Hamburg (sekitar 450 km dari KATZENFURT)yang dilaksanakan oleh gereja Protestan se-Jerman. Kami mengikuti acara tsb di REEPERBAHN. Adapun tema KIRCHENTAG adalah “SOVIEL DU BRAUCHST” (‘sebanyak yang anda butuhkan’, diambil dari Keluaran 16:18). Di sana kami juga bertemu dengan delegasi dari HKBP (8 orang) dan GKPS (6 orang) yang diundang oleh masing-masing gereja partnernya.


Tanggal 2 Mei kami berjalan kaki menuju stasiun kereta api bersama Ibu Sonia dan para delegasi dari Hongkong dan Namibia, kemudian kami naik kereta api ke Hummersbarg mengikuti ceramah berkaitan dengan Katekhismus Heidelberg. Di sana kami juga bertemu dengan Barbara dan Praeses Protestan Church in Reimland untuk membicarakan kemungkinan peningkatan partnership. Tanggal 3 Mei ke Messe Halle mengikuti beberapa event dan mengunjungi stand.Tanggal 4 Mei kami mengikuti kegiatan di Rathaus khusus mengenai musik. Tanggal 5 Mei kami kembali ke KATZENFURT. Sesuai dengan pengumuman panitia, KIRCHENTAG berikutnya akan dilaksanakan tahun 2015 di Stutgart bersama-sama gereja Katolik.


Tanggal 6 Mei kami dibawa oleh Paulina (salah seorang anggota Tim Partnership) melihat-lihat kota Wetzlar, termasuk Katedral yang terkenal di sana.



Dan siangnya sampai sore kami mengikuti kegiatan anak-anak Sekolah Minggu yang dipimpin oleh Thomas (salah seorang pelayan Diakonia di gereja Katzenfurt).



Tanggal 7 Mei Andreas Hagel dan Horst membawa kami ke COLOGNE melihat DOM (Cologne Cathedral) yang sangat terkenal di dunia.





Sorenya kami mengikuti pertemuan dengan seluruh Komite Partnership yang ada di Distrik Braunfels. Pada pertemuan tsb juga didiskusikan MOU partnership ke depan. Tanggal 8 Mei lajutan diskusi tentang MOU dan sampai ke finalisasi MOU untuk 5 tahun ke depan.




Tanggal 9 Mei mengikuti ibadah 30 tahun partnership antara GKPA dan Distrik Braunfels di Aula gereja Eringshausen. Ibadah tsb berjalan dengan baik dan hikmad dengan suasana memaknai partnership, dan Ephorus saat itu menyampaikan sambutan. Ibadah tersebut dihadiri sekitar 60 orang jemaat, 5 orang pendeta dan Superintendent Roland Rust. Selesai ibadah, GKPA menyampaikan kenang-kenangan kepada Tim Partnership, Pdt.Jurgen Schliningensiepen, Herbert dan Helga Kogel, dan beberapa utusan lainnya, dan mereka sangat senang menerima kenang-kenangan tsb.




Selesai makan siang, dilaksanakan acara penanda-tanganan MOU partnership antara GKPA dan Distrik Braunfels untuk 5 tahun ke depan.


Tanggal 10 Mei kami bersama-sama dengan Horst dan Alice ke Wuppertal mengunjungi kantor pusat UEM. Di sana kami bertemu dengan Ibu Sonia Parera Hummel didampingi Kristina Bauer. Di samping kunjungan, kami juga mendiskusikan tentang kerjasama dengan UEM, dan pada prinsipnya UEM menyambut baik program dan kerjasama dengan GKPA.



Sorenya kami mengunjungi keluarga Herbert dan Helga Kogel bernostalgia tentang partnership antara GKPA dengan Distrik Braunfels. Tanggal 11 Mei bersama dengan Pauline, Tom dan Miryam, kami mengunjungi Goethe University dan ke kebun binatang di Frankfurt. Tanggal 12 Mei mengikuti ibadah Minggu di Daubhausen pukul 09.30 dan di Katzenfurt pukul 11.00, serta makan siang perpisahan di rumah Pdt.Ulrich Ries.


Sorenya ke rumah Uli Hild (Ketua fishing club) menjajaki kerjasama dengan fishing klub di GKPA, dan dilanjutkandengan pertemuan bersama Komite partnership untuk melakukan evaluasi. Kami diberangkatkan dengan acara ‘Farewell Barbacue’

Tanggal 13 Mei diantar Paulina dan Felix ke bandara Frankfurt dan kami kembali  ke Indonesia (Jakarta) melalui Kuala Lumpur naik Malaysia Airlines. Puji Tuhan, tanggal 14 Mei sekitar pukul 08.30 tiba di bandara Soekarno Hatta – Jakarta dengan selamat.



Kegiatan PGI dan pertemuan dengan Ephorus GPKB :

Tanggal 15-16 Mei melanjutkan urusan di Jakarta dan pertemuan dengan Ephorus GPKB di kantor pusatnya untuk membicarakan tindak lanjut program kerjasama program penyiaran Radio di Padangsidimpuan. Kerjasama ini didukung oleh UEM dan akan ditindak lanjuti dengan MOUnya. Tanggal 17-18 Mei  mengikuti acara PGI ‘Celebration of Unity” bekerjasama dengan Reachout Fondation mengambil tema “Supaya mereka semua menjadi satu”.



Acara ini merupakan rangkaian kegiatan pra pelaksanaan Sidang Raya Dewan Gereja-gereja se-dunia (WCC) tanggal 30 Oktober 2013 nanti di Busan. Semua aras lembaga gereja di Indonesia ikut ambil bagian dalam kegiatan ini dan mendukung acara ini. Acara ini juga dimaknai dengan pentingnya kesatuan gereja-gereja, khususnya di Indonesia. Acara dirangkai dengan ibadah pembuakaan, seminar-seminar dan hiburan. 


Kembali ke Padangsidimpuan pada tanggal 19 Mei subuh kami berangkat dari Jakarta menuju Medan, dan Ephorus melayani di Gereja Medan Timur, Sekjend juga melayani di GKPA Helvetia. Besoknya, Senin tanggal 20 Mei berangkat dari Medan ke Padangsidimpuan.

Puji Tuhan atas kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kami  untuk mengikuti acara peringatan 30 tahun partnership antara GKPA dengan Distrik Braunfels di Jerman. Kesempatan ini akhirnya dapat menguatkan parnership dan harapan untuk melanjutkannya di kemudian hari dengan lebih baik lagi. Banyak hal yang dapat kami pelajari dari kunjungan ini. Semoga laporan ini berguna bagi kita yang membacanya.

Padangsidimpuan, 22 Mei 2013
Ephorus
Sekjend

Senin, 08 Juli 2013

SINODE KERJA XVIII DIBUKA


Pucuk pimpinan GKPA memukul gong tanda dibukanya Sinode Kerja GKPA ke-18, Selasa (2/7).

Ephorus atau pucuk pimpinan Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) Pdt AB Marpaung MMin, MTh secara resmi membuka Sinode Kerja GKPA ke-18 di Gedung Serba Guna Kantor Pusat GKPA, Jalan Teuku Umar Kota Padangsidimpuan, Selasa (2/7).
Pembukaan kegiatan yang direncanakan berlangsung sejak 1 hingga 5 Juli itu ditandai pemukulan gong oleh pucuk pimpinan GKPA, disaksikan Ketua Forum Antar Umat Beragama (FKUB) Suwanto, perwakilan Walikota Psp, perwakilan Bupati Tapsel, perwakilan Kapolres Psp, 33 pendeta GKPA, perwakilan gereja Jerman (UEM) DR Ria Lumbagaol, perwakilan gereja Australia (LCA) Rosmerry dan 360 orang peserta dari perwakilan seluruh resort yang ada di tanah air.
Dalam arahan dan bimbingannya, Ephorus GKPA mengatakan, sebagai umat yang beriman, GKPA percaya bahwa Tuhan senantiasa memperhatikan perjalanan gereja melalui perhatian sesama, baik pemerintah, keikutsertaan mejelis semua tingkatan, melalui pelayanan dan gagasan yang diberikan.
“Kita sama-sama merasa terpanggil untuk melihat kinerja selama 2 tahun ini, tentunya kita sama-sama mau mengevaluasi. Sebagaimana sesama kita, bisa sebagai subjek dan juga objek dalam perjalanan 2 tahun ini,” katanya.
Dikatakan, tujuan sinode juga untuk dapat melihat sejauh mana telah menyumbangkan apa yang dimiliki, baik fisik, moral dan iman, terhadap pertumbuhan iman orang di sekitar.
“Pemahaman itu dapat memberi inspirasi penting bahwa sinode yang berasal dari kata seen dan hodos, artinya melihat jalan, kita dapat satu jalan untuk melihat satu langkah tentang apa yang sudah dan akan kita lakukan,” terangnya.
Ditambahkan, momen sinode juga sangat strategis melihat pelayanan pimpinan terhadap warga jemaat gembalanya. Sebaliknya, menjadi strategis juga untuk mengevaluasi ketaatan domba dengan gembalanya.
“Sekaligus mau melihat sinergitas kerja para pelayan dan sinergitas sesama jemaat untuk menyongsong pertumbuhan kualitas keimanan dan kuantitas jemaat GKPA,” terangnya.
Sementara Ketua Umum Panitia Sinode ke-18 GKPA pdt TS Simatupang MTh mengatakan, terlaksananya sinode berkat dukungan dan bantuan moril maupun materil dari perseorangan, keluarga, maupun institusi, Pemerintah Kota psp dan Tapsel.
“Sesuai dengan data yang ada pada sekretariat, sinode dihadiri oleh 238 undangan dari seluruh resort, 20 peninjau dan 90 panitia,” katanya.
Sementara Ketua FKUB Psp Suwanto mengatakan, agama adalah penguat integritas berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, agama harus bisa memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa ini, seperti kemiskinan, kebodohan, dan faktor lingkungan hidup.
Alipian Pane dari Badan Kebanglinmaspol yang mewakili Walikota Psp Andar Amin Harahap mengatakan, dengan pelaksanaan Sinode ke-18 ini, GKPA semakin maju dan menjadi pioner dalam mewujudkan kerukunan antar umat beragama di Psp.
Amatan METRO, pembukaan Sinode Kerja ke-18 GKPA tersebut berlangsung dengan hikmad, aman dan lancar.(sumber Metro Siantar) 
http://www.metrosiantar.com/2013/sinode-kerja-ke-18-gkpa-dibuka/

Sinode Kerja GKPA ke-18 Ditutup


Bupati Tapsel Syahrul M Pasaribu menanda-tangani prasasti Monumen Parausorat Center.


SIDIMPUAN – Pelaksanaan sinode kerja Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) yang dimulai sejak1 hingga  5 Juli 2013 di gedung serba guna kantor pusat GKPA Jalan Teuku Umar Kota Psp, ditutup secara resmi oleh pucuk pimpinan atau Ephorus GKPA Pdt. A.B Marpaung M Min MT, Jumat (5/7) lalu.
Sinode kerja yang dilakukan merupakan kegiatan rutin dalam membahas program kerja GKPA perode yang lalu atau Mei 2011 hingga  April 2013 untuk memajukan kegiatan pelayanan melalui penyusunan program kerja yang lebih baik terutama dalam peningkatan pelayanan umat dalam beribadah
Ketua I Panitia Sinode Kerja GKPA ke-18 Pdt A Sigalingging dalam laporannya mengatakan, jadwal kegiatan berjalan sesuai dengan rencana, dengan jumlah peserta 300 orang. Ia mengucapkan terimakasih kepada Pucuk Pimpinan yang memberi kepercayaan kepada panitia untuk pelaksanaan Sinode, juga mengucapkan termakasih kepada Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Selatan atas berkenannya menghadiri penutupan. Sebab, merupakan suatu kehormatan bagi keluarga besar GKPA dalam menggelar kegiatannya.
Bupati Tapanuli Selatan Syahrul Pasaribu dalam sambutannya Syahrul mengatakan, mudah-mudahan semua keputusan yang diambil dalam sidang ini adalah untuk memajukan GKPA.
“Dan kepada semua keluarga besar GKPA, marilah kita sama-sama menjaga dan memelihara pembangunan karena pembangunan yang dijalankan tak lepas dari pembangunan mental spritual dari setiap warga,” katanya.
Dalam sambutannya Ephorus mengatakan, jemaat GKPA akan senantiasa menjalin hubungan yang baik dengan Pemerintah, dan tentunya akan selalu menjalin kerja sama dengan Pemerintah untuk memajukan warga.
“Kepada semua peserta Sinode, semoga apa yang kita dapat dalam Sinode ini bisa menjadi bekal buat kita semua demi kemajuan GKPA kita ini juga demi kemuliaan Tuhan,” pungkasnya.

Kamis, 20 Juni 2013

DISURUH DAN DIUTUS



Minggu 4 Dung Trinitatis                                               Jamita : Mateus 10 :16-22
Minggu 23 Juni 2013                                                      Sibasaon : Galatia 4:4-9



http://sangsabda.files.wordpress.com/2010/01/yesus-mengutus-misi-yang-duabelas.jpg?w=570

J
ika kita memasuki dunia profesi tertentu, kita wajib memenuhi persyaratan kerja yang diterapkan oleh pemberi pekerjaan.Tujuannya supaya kita mengikuti ritmekerja dari perusahaan tersebut dan dapat melakukan tugas dengan baik. Hasil yang dicapaipun maksimal. Demikian juga sebagai utusan Yesus Kristus, Ia memberikan syarat-syarat kepada para muridNya. Sekalipun tak seorang pun dapat memenuhi syarat-syarat yang Yesus berikan karena memang kita tidak layak dihadapan Allah, tetapi hanya karena anugerah Allah saja kita yang belum memenuhi syarat ini, diperkenankan untuk melayaniNya.

Namun hal ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu menunjukkan kualifikasi apapun. Sebaliknya, Yesus menuntut kita agar semaksimal mungkin meme­nuhi persyaratan yang Yesus berikan. Kita harus mengupayakan dengan sungguh agar kita mampu memenuhi kriteria itu. Apa saja syarat-syarat utusan Kristus yang harus kita upayakan setiap waktu ?

1.      Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati
Dalam pengajaranNya, Yesus mengingatkan kepada murid-muridNya bahwa mereka akan menghadapi berbagai penderitaan atau tantangan, yaitu tantangan pisik, masa depan dan tantangan iman yang berat. Tantangan-tantangan inilah yang diungkapkan dengan perkataan serigala.  Untuk menghadapi segala tantangan, orang percaya sebagai utusan Kristus harus "Cerdik"

Sebenarnya seluruh gereja Kristus, gereja yang diutus kedalam dunia, setiap saat tidak terlepas dari bahaya dan ancaman, untuk itu diingatkan agar lebih berhati-hati dan tetap memilih suatu sikap yang arif dan bijaksana yaitu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Cerdik yang dimaksud bukan berarti cerdik busuk, melainkan pintar dan bijaksana supaya mereka dapat luput dari bahaya. Yang disarankan untuk ditiru bukanlah sifat negatif kelicikannya yang mau mematuk atau menggigit, yang mau diteladani adalah kesigapan yang luar biasa dan kepintaran yang bijaksana itu. Tetapi dengan serentak sifat burung merpati. yaitu ketulusan harus tetap dipelihara.

Orang Yahudi menganggap burung merpati sebagai burung yang jauh dari kelicikan. Perasaan itu dapat kita mengerti bila kita mengamati burung merpati. Dalam syair-syair Latin merpati dipertentangkan dengan burung gagak. Jadi ditengah-tengah kebijaksanaan ketuluaan kristen tetap harus nyata. Kata tulus juga berarti tidak ada niat dan maksud jahat dalam pikiran dan perbuatan hidup sehari-hari. Perlu kesetiaan dalam mengikut Yesus, melayaniNya dan memberitakan firmanNya. Kita melakukan pelayanan bukan sekedar rasa tertarik dan bukan pula karena kita mempunyai ambisi pribadi, melainkan karena kita diutus oleh Tuhan yang empunya pekerjaan ini.

2.      Waspada serta teguh dalam berbagai pencobaan.
Masa depan dari hidup orang-orang percaya dalam mengikut Yesus diperhadapkan kepada berbagai kesulitan. salah satu diantaranya desakan ekonomi dan masa depan anak-anak dan keturunannya.

Sebagian orang Kristen telah meninggalkan keyakinannya dan berpindah kepada agama dan keyakinan lain oleh karena desakan ekonomi dan masa depannya. Itu sebabnya kita harus selalu waspada dan mengusahakan supaya hidup ini diisi dengan firman Tuhan sehingga dapat bertahan dan sungguh sungguh hidup dalam kebenaran firman Tuhan serta percaya bahwa Tuhan Ye­sus menyertai, menguatkan dan menghibur dalam semua tantangan kehidupan. Bukankah Tuhan Yesus telah mengatakan:"Aku akan menyertai engkau sampai pada akhir zaman "(Mat.28;20). Dengan demikian bagi orang percaya tidak ada istilah berputus asa atau kalah dalam menghadapi tantangan hidupnya. Tetapi tetap bertahan memperkenalkan Kristus dalam berbagai kehidupannya ditengah masyarakan dimana dia berada. Sebab firman Tuhan mengatakan; "Siapa yang bertahan sampai pada akhirnya, maka bagiannya akan di berikan mahkota kehidupan". Percayalah bersama Yesus kita dimampukan.

3.       Rela berkorban
Sebagai utusan dan pelayan Tuhan dituntut kerelaan untuk berkorban. Rela untuk mengorbankan sesuatu yang menurut kita paling berharga dalam hidup ini. Bersedia hidup untuk mematikan keinginan-keinginan daging dalam diri kita. Jika keinginan diri sendiri masih menguasai hidup kita maka kita tidak layak untuk melayani Tuhan. Karena seorang yang dikuasai keinginan diri tidak layak untuk melayani Tuhan. Keinginan untuk memuaskan keinginan hati sendiri dan mencari keuntungan menjadi dasar pelayanannya. Yesus tidak menghendaki watak demikian dalam diri para pekerjanya. Itu sebabnya Yesus memberikan syarat kepada kita: "Tinggalkan semua keinginanmu dan layanilah Aku!"

Untuk itu sebagai utusan dan pelayan Tuhan marilah kita menyadari bahwa kita tidak bekerja untuk diri sendiri dan tidak pula bekerja seorang diri. Sebagai orang yang diutus, maka disatu pihak kita dipercayai dan ditanggungjawabi sebuah tugas dan dilain pihak kita ditopang, dimotivasi, diikutsertakan, dipakai, dimantapkan, diberi visi dan ditempatkan dalam jaringan kerja oleh Dia yang mengutus kita. AMIN.


Syalom,
Pdt. B. Lubis, STh
GKPA Resort Batangtoru